Tuesday, April 15, 2014


Oleh: Abdurrahman ibn Abdil Ghaits

Orang yang meregang nyawa, di ambang pintu kematian mengalami rasa sakit yang bukan alang kepalang. Saat-saat kritis itulah yang disebut dengan sekarat atau sakratul maut.Kematian yang wajar dan normal dapat dikenali dengan beberapa tanda. Di antara tanda-tanda datangnya kematian itu adalah:

1. Orang yang mau meninggal akan melihat malaikat maut. Jika dia termasuk calon orang yang berbahagia maka dia akan melihat malaikat maut dalam rupa yang bagus, dan melihat malaikat rahmat berwajah putih. Mereka membawa kafan dan tikar dari sorga. Mereka duduk dari padanya sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malaikat maut seraya duduk di sisi kepalanya dan berkata: “Keluarlah menuju ampunan Allah dan keridhaan-Nya!” Adapun jika dia termasuk calon orang yang celaka, maka dia akan melihat malaikat maut dalam rupa yang lain, serta melihat malaikat adzab menghitam wajahnya. Mereka membawa kafan dan tikar dari api neraka. Kemudian datanglah malaikat maut seraya duduk di sisi kepalanya dan memberinya kabar gembira dengan kemurkaan Allah atasnya, dan dia melihat tempat duduknya di neraka. Berkatalah malaikat maut: “Keluarlah wahai jiwa yang keji, dan bergembiralah dengan kemurkaan dan kemarahan Allah!”

2. Dengan keadaan yang demikian, saat orang yang mau meninggal melihat malaikat maut, diapun lemas, tidak bisa berkutik, mual, merasakan pedihnya sekarat, dan kesusahan, tidak mampu berkata-kata. Dia mendengar tapi tidak mampu menjawab, melihat tapi tidak mampu menerangkannya, hatipun kacau, detak jantung sudah tidak beraturan, kadang dia tersadar, kadang dia pingsan karena pedihnya sakaratul maut. Ya Allah, tolonglah kami atas sakaratul maut.


Tanda-tanda yang menunjukkan seseorang itu telah meninggal:

1. Terbelalaknya mata, berdasarkan hadits Ummu Salamah, dia berkata : “Rasulullah masuk kepada Abu Salamah, sementara matanya telah terbelalak kemudian Nabi memejamkannya seraya bersabda: ”Sesungguhnya jika roh itu dicabut, mata akan mengikutinya….” (HR. Muslim dan Ahmad)
2. Condongnya hidung kearah kanan atau kiri
3. Kendur (terbuka)nya rahang bawah, karena kendurnya seluruh anggota tubuh secara umum.
4. Diam dan berhentinya detak jantung.
5. Mendinginnya seluruh tubuh secara umum.
6. Merapatnya betis kanan dengan betis kiri, dan sebaliknya berdasarkan firman Allah : “Dan bertaut betis (kiri) dan betis (kanan).” (QS. al-Qiyamah: 29)


Apa yang harus kita lakukan setelah kita yakin akan kematiannya?

1.Memejamkan kedua matanya
2. Menutupkan mulutnya
3. Melemaskan tulang-tulang persendian seketika, satu jam setelah kematiannya, untuk memudahkan pemindahan, pemandian dan pengkafanannya.
4. Meletakkan pemberat yang sesuai di atas perutnya agar tidak menggelembung jika tidak disegerakan prosesi pemandiannya.
5. Menutup seluruh lubang tubuh hingga diselenggarakan perawatannya.
6. Mempercepat penyelenggaraan jenazah, berdasarkan sabda Nabi “Bersegeralah kalian (menyelenggarakan) jenazah, jika dia shalih, maka sebuah kebaikan telah kalian ajukan, jika selain itu maka sebuah keburukan yang kalian letakkan dari leher-leher kalian.” (HR. Bukhari)
7. Bersegera membayarkan hutangnya, berdasarkan hadits Abu Hurairah dari Nabi beliau bersabda:”Jiwa seorang mukmin tergadaikan oleh hutangnya hingga dilunasi.” (HR. Turmudzi)


Khusnul khatimah dan tanda-tandanya:

1. Hadits pertama dari Mu’adz, dia berkata, Rasulullah bersabda: “Barangsiapa akhir ucapannya di dunia ini adalah Laa Ilaha Ilallah, dia masuk sorga.” (HR. Abu Dawud, dan al-Hakim)
2. Hadits kedua dari Buraidah ibn Hushaib dia berkata, aku mendengar Rasulullah bersabda: “Kematian seorang mukmin (ditandai dengan) keringat di dahi.” (HR. Ahmad, Nasa’i, Turmudzi dan lainnya)
3. Hadits ketiga dari Abdullah ibn ‘Amr, dia berkata, Rasulullah bersabda: “Tidak ada seorang muslimpun yang meninggal pada hari jum’at atau malam jum’at melainkan dia akan dibebaskan dari siksa kubur.” (HR. Turmudzi)
4. Dan di antara tanda khusnul khatimah adalah mati di saat menjalankan keta’atan kepada Allah dan rasul-Nya, seperti meninggal dalam keadaan shalat, atau puasa, atau haji, umrah atau dalam keadaan berjihad di jalan Allah atau dalam dakwah kepada Allah. Dan barangsiapa dikehendaki baik oleh Allah, Dia akan memberinya taufik untuk beramal shalih kemudian mencabut nyawanya.
5. Pujian baik oleh sekumpulan kaum muslimin atasnya, berdasarkan hadits Anas, dia berkata, (Para sahabat) pernah melewati sebuah jenazah, kemudian mereka memuji kebaikan atasnya. Maka Nabi bersabda: “Wajib.” Kemudian mereka melewati sebuah jenazah yang lain, lalu mereka mengutarakan keburukannya. Maka Nabi bersabda: “Wajib.” Maka Umar berkata: “Apa yang wajib?” Beliau bersabda:
“Yang ini kalian menyebut baik atasnya, maka wajib baginya sorga, sementara yang itu kalian menyebut buruk atasnya maka wajib baginya neraka, kalian adalah saksi Allah di bumi-Nya.” (HR. Bukhari Muslim)
6. Tanda-tanda yang bisa dilihat dari si mayit setelah kematiannya:
a. Senyuman di wajah
b. Terangkatnyajari telunjuk, yang menunjukkan syahadat tauhid
c. Bersinar, dan bercahayanya wajah karena kegembiraan menerima kabar gembira yang didengarnya dari malaikat maut.


Adapun tanda su’ul khatimah banyak dan bermacam-macam, di antaranya:

1. Mati di atas kesyirikan, atau meninggalkan shalat dengan meremehkan perintah-perintah Allah dan rasul-Nya, begitupula mereka yang mati saat mendengarkan nyanyian (musik), suara seruling, sinema, atau film komedi, dan mereka yang mati di atas perbuatan-perbuatan keji secara umum, begitupula yang mati dengan khamr (miras) dan narkoba.
2. Di antara tanda yang tampak pada mayat setelah kematiannya adalah; murung, gelap dan menghitamnya wajah, karena kengerian yang dirasakan saat mendengar berita buruk tentang murka Allah dari malaikat maut. Kadang-kadang warna hitam ini menyelimuti seluruh tubuh -wal ‘iyadzu billah-.

Saya nasihatkan kepada orang-orang yang sembrono dalam menunaikan ibadah shalat —terutama yang meninggalkannya— agar segera bertaubat kepada Allah, dan segera menjaga shalat tersebut hingga mendapatkan kekhusyu’an di dalamnya. Dikarenakan shalat adalah tiang agama Islam, dan sesungguhnya (pembatas) antara seseorang dengan kekufuran adalah meninggalkan shalat sebagaimana suri tauladan dan Nabi kita Muhammad telah mengajarkan: “Perjanjian antara kita dan mereka (orang-orang munafik) adalah shalat, maka barangsiapa meninggalkannya, dia telah kufur.” (HR. Ahmad dan Malik)
Shalat adalah sebenar-benar perisai bagi pelakunya, dialah pencegah dari perbuatan keji dan munkar, Allah berfirman : “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut: 45)
Maka di manakah anda —mudah-mudahan Allah menjaga anda- dari perisai ini?! Di manakah anda dari sungai yang akan menghapus dosa-dosa anda sebanyak lima kali dalam sehari semalam ini? Bertaubatlah saudaraku sekarang juga, sebelum hilangnya kesempatan! Dan sebelum datangnya malaikat maut secara tiba-tiba. Dikarenakan panen dari sesuatu yang telah engkau tanam di dunia dimulai saat malaikat maut memerintahkan ruh untuk keluar darimu. Maka bercocok tanamlah kebaikan, engkau akan senang dengan hasilnya!
Adapun orang yang berpaling dari kebaikan ini, dan dia meninggalkan shalat, maka tanda-tanda su’ul khatimahnya adalah hitam yang menyelimuti seluruh tubuhnya saat jenazahnya dimandikan. Kita berlindung kepada Allah dari kehinaan.

(Abdurrahman ibn Abdil Ghaits; dalam Kitab Al-Wajiz fi Tajhizil Jinazah)

Disalin oleh oryza dari Qiblati edisi 02 tahun 02

Tuesday, April 8, 2014

Ingat Mati dan Persiapan Menyambutnya

Diriwayatkan oleh an-Nasa'i dari Abu Hurairah bahawa Rasulullah bersabda,"Sering-seringlah kalian ingat akan sesuatu yang melenyapkan kenikmatan-kenikmatan." Maksudnya, ialah kematian. Hadis tersebut selain diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan at-Tirmidzi, juga diriwayatkan oleh al-Hafizh Abu Na'im sekalian dengan isnadnya dari Malik bin Anad, dari Yahya bin Sa'id, dari Sa'id ibnul-Musayyib, dan dari Umar ibnul Khattab, ia mengatakan bahawa Rasulullah bersabda,"Sering-seringlah kalian ingat akan sesuatu yang dapat melenyapkan kenikmatan-kenikmatan." Kami bertanya,"Ya Rasulullah, apa itu sesuatu yang melenyapkan kenikmatan-kenikmatan?" Beliau menjawab,"Kematian."

Diriwayatkan oleh at-Thabrani dan Ibnu Majah dari Umar bahawa ia berkata,"Ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah, tiba-tiba muncul seorang sahabat Ansar. Setelah mengucap salam kepada beliau, ia bertanya, "Rasulullah, siapakah orang mukmin yang terbaik itu?" Beliau menjawab,"Yang paling baik akhlaknya."Ia bertanya, "Siapakah orang mukmin yang paling pintar?" Beliau menjawab,"Yang paling sering ingat kematian dan yang punya persiapan terbaik untuk menyambut apa yang terjadi sesudahnya. Mereka itulah orang yang paling pintar." Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (Ibnu Majah,Ahmad dan at-Thabrani), Syaddad bin Aus mengatakan bahawa Rasulullah bersabda,"Orang pintar ialah orang yang mahu memperbetulkan dirinya sendiri dan beramal untuk kepentingan akhirat nanti. Dan, orang lemah ialah orang yang mengikuti hawa nafsunya, tetapi berharap-harap terhadap Allah."

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dari Anas bahawa Rasulullah bersabda,"Sering-seringlah mengingat kematian, kerana sesungguhnya hal itu bisa membersihkan dosa-dosa, dan dapat membuat bersikap zuhud terhadap dunia." Diriwayatkan oleh Baihaqi (dalam hadis dhaif) bahawa Nabi saw. bersabda,"Cukuplah kematian itu sebagai pelajaran. Dan, cukuplah kematian itu sebagai sesuatu yang memisahkan." Dalam hadis riwayat Haitsami dan at-Thabrani (dhaif) disebut bahawa seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah, "Ya Rasulullah, apakah di akhirat nanti ada seorang yang akan dikumpulkan bersama para syuhada?" Beliau menjawab,"Ada, yaitu orang yang sering mengingat kematian sebanyak dua puluh kali sehari semalam."

Menafsiri firman Allah dalam surah al-Mulk ayat 2, "Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya", Abdurrahman as-Suda mengatakan, "Yang dimaksudkan ialah orang yang paling mengingat kematian, yang memiliki persiapan paling baik untuk menghadapinya, dan yang paling takut kepadanya." 

(Fasal 1). Menurut para ulama kita, sabda Nabi saw., "Sering-seringlah mengingat sesuatu yang dapat melenyapkan kenikmatan-kenikmatan," adalah sebuah kalimat yang singkat, tetapi sarat dengan pesan dan pelajaran. Orang yang benar-benar ingat kematian, dengan sendirinya ia akan sedar tentang hakikat nikmat yang tengah dirasakannya di dunia. Sehingga, ia tidak akan banyak berharap nikmat itu akan bersikap zuhud terhadap apa yang diharapkan daripadanya. Tetapi, bagi orang berjiwa keruh dan berhati lalai, perlu nasihat yang detail dan pelajaran yang panjang. Seorang mukmin yang mendengarkan atau memperhatikan sabda Nabi, "Sering-seringlah mengingat sesuatu yang dapat melenyapkan kenikmatan-kenikmatan", dan firman Allah dalam surah Ali Imran ayat 185, "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati", tentu hal itu sudah cukup menjamin ia menjadi mukmin yang baik. Amirul mukminin Umar ibnul Khattab sering membaca bait-bait syair ini, 

"Tidak ada sesuatu pun yang kamu lihat gemerlapan itu abadi
kerana yang abadi hanyalah Tuhan
harta dan anak-anakmu akan lenyap.
Hurmuz pada suatu hari pernah tidak memerlukan simpanan kekayaannya
Kaum 'Aad sudah pernah ingin abadi, tetapi gagal
Begitu pula dengan Sulaiman sang pengendali angin, manusia dan jin
Mana raja yang dulu pernah paling berjaya di muka bumi?
Di akhirat kelak semua akan tunduk dan tak mampu berbohong."

(Fasal 2). Ketahuilah bahawa sesungguhnya mengingat kematian itu akan menimbulkan perasaan cemas saat meninggalkan kehidupan dunia yang fana ini menuju ke kehidupan akhirat yang kekal abadi. Seseorang pasti tidak mungkin lepas dari suka dan duka, atau nikmat dan penderitaan. Ketika ia sedang berduka dan menderita, mengingat kematian akan membantu mempermudah ia menghadapinya, kerana apa yang ia alami itu tidak akan abadi. Dan, ketika ia sedang dalam keadaan suka mengenyam nikmat, maka mengingat kematian akan membuat ia tidak mahu tertipu oleh kenikmatan-kenikmatan yang tengah ia rasakan. Ia tetap akan bersikap tenang. Sungguh indah apa yang dikatakan oleh seorang penyair berikut ini, 

"Ingatlah kematian yang akan melenyapkan segala kenikmatan,
dan bersiaplah menghadapi kematian yang pasti akan datang."

Seorang penyair lain mengatakan,
"Ingatlah kematian nescaya kamu akan mendapati kenikmatan,
Ingat kematian dapat mematahkan angan-angan yang kosong belaka."

Semua sepakat bahawa kematian itu tidak terikat oleh umur tertentu , waktu tertentu, dan penyakit tertentu. Hal itu dimaksudkan agar manusia selalu dalam posisi siap sedia menghadapinya bila dan di mana saja. Dahulu ada orang soleh yang setiap malam naik ke sebuah bangunan tinggi di kota Madinah dan berseru, "Ayuh berangkat! Ayuh berangkat!Ketika orang itu telah meninggal dunia, tidak pernah lagi terdengar seruan tersebut. Suatu hari wali kota Madinah menanyakan orang itu, dan ketika mendengar bahawa orang itu telah meninggal dunia, ia mengatakan,

"Ia yang setiap malam berseru mengingatkan kematian itu, dan unta-unta pun yang mendengar seruannya menderum di pintunya sekarang telah pergi."

Yazid ar-Raqasyi pernah berkata pada dirinya sendiri, "Yazid, Yazid. Celaka,kamu! Setelah kamu nanti tiada, siapa mahu solat atas namamu? Siapa yang sudi berpuasa atas namamu? Dan, siapa yang bersedia memintakan keredhaan Allah atas namamu?"Selanjutnya ia mengatakan, "Wahai manusia, kenapa kalian tidak menangis meratapi sisa hidup kalian yang tinggal berapa lama lagi? Kalian akan dijemput sang maut, dan ditunggu kubur yang beralaskan tanah dan bertemankan cacing-cacing." Merasa dicekam oleh rasa takut yang luar biasa. Yazid pun menangis lalu jatuh pengsan.

Kata at-Taimi, "Ada dua hal yang pasti akan melenyapkan kenikmatan dunia dariku. Yakni, ingat kematian, dan ingat ketika di hadapan Allah Taala." Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah mengumpulkan para ulama. Mereka satu sama lain lalu mengingatkan tentang kematian, kiamat, dan akhirat. Saat itu mereka sama-sama menangis seakan-akan mereka tengah menunggu jenazah orang tercinta.

Kata Abu Na'im dalam al-Hilyat (VII/85), "Jika Sufyan ats-Tsauri sedang mengingat kematian, selama berhari-hari ia kelihatan sangat bersedih. Wajahnya tampak murung. Setiap kali ditanya sesuatu ia hanya menjawab, 'Saya tidak tahu. Saya tidak tahu.'" Kata Asbath,"Suatu hari Nabi mendengar beberapa orang sahabatnya memuji-muji kehebatan seseorang. Beliau lalu bertanya kepada mereka, 'Apakah ia sering ingat kematian?' Mereka menjawab, 'Tidak sama sekali.' Beliau bersabda,'Kalau begitu, mereka tidak sehebat yang kalian katakan.'" Ad-Daqqaq berkata,"Barangsiapa yang sering ingat kematian, ia akan dimuliakan dengan tiga hal. Yakni, lekas bertaubat, hati yang qana'ah (menerima apa adanya), dan semangat dalam beribadah. Dan barangsiapa yang lupa akan kematian, ia akan diberi musibah dengan tiga hal. Yakni, lambat bertaubat, tidak puas dengan pemberian Allah, dan malas beribadah."

Kerana itu berfikirlah, wahai orang yang tertipu, akan kematian dan saat-saat yang kritikal ketika kamu sedang sakartul maut. Kematian adalah janji yang pasti akan ditepati. Kematian adalah luka. Kematian membuat mata menangis. Kematian mengakibatkan perpisahan. Kematian akan melenyapkan kenikmatan-kenikmatan. Dan, kematian memutuskan harapan serta angan-angan. Pernahkah kamu memikirkan kematianmu, wahai anak cucu Adam? Itulah saat kamu harus berpindah dari tempatmu di dunia yang lapang ke sebuah liang lahad yang sangat sempit, saat teman-temanmu yang paling dekat sekalipun mengkhianatimu tanpa kamu boleh berbuat apa-apa, saat kamu harus meninggalkan saudara dan handai taulan, saat kamu harus bangkit dari tempat tidurmu, saat kamu harus menanggalkan pakaian mewah dengan berganti dengan pakaian tanah yang kotor.

Wahai orang yang selalu menghimpun harta dan bersaing mendirikan bangunan pencakar langit, saat itu kamu sudah tidak punya harta sama sekali selain hanya beberapa lembar kain kafan, itu pun sebentar lagi pasti akan rosak. Tubuhmu dimakan oleh tanah. Lalu, di mana nanti harta yang selama ini kamu tampuk? Apakah ia akan boleh menyelamatkan kamu dari huru-hara? Tidak. Tetapi, kamu tinggalkan (hartamu) untuk orang yang justeru tidak mahu berterima kasih kepadamu. Sementara dosa-dosamu kamu ajukan kepada Allah yang pasti tidak mahu menerima alasanmu. 

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ 

"Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat." 
(Surah Al-Qasas : 77)

Bagus sekali orang yang menafsikan firman Allah itu, dengan mengatakan,"Carilah syurga di negeri akhirat pada apa yang telah Allah berikan kepadamu di dunia ini. Seorang mukmin harus dapat mengelola dunia untuk kepentingan akhirat. Bukan untuk yang lain."Jadi, seolah-olah dikatakan kepadanya,"Janganlah kamu lupa bahawa kamu pasti meninggalkan seluruh hartamu, kecuali satu bahagianmu, yakni kain kafan." Dalam hal ini seorang penyair berkata,

"Bahagianmu dari seluruh harta yang kamu kumpulkan sepanjang hidupmu hanyalah dua lapis kain kafan yang membungkus tubuhmu dan sebutir ubat pengawet tubuh."

Seorang penyair lain mengatakan ,

"Adalah sifat qana'ah yang tidak bisa kamu carikan gantinya, disitu ada banyak kenikmatan, disitu ada yang dapat menyenangkan badan. Lihat, orang yang paling kaya di dunia sekalipun, apakah ia akan diusung ke kubur tanpa kain kafan?"

(Fasal 3). Yang dimaksudkan dengan sabda Nabi saw,"Orang yang pintar ialah orang yang mahu memperbetulkan dirinya sendiri", ialah bahawa orang pintar ialah orang yang boleh introspeksi diri. Ada yang berpendapat bahawa itu adalah orang yang sanggup mengendalikan nafsunya. Menurut Abu Ubaid, orang yang sanggup menaklukkan nafsu, ia pasti akan boleh memperbudaknya untuk di ajak beribadah kepada Allah dan beramal buat kepentingan akhirat. Demikian pula ia akan introspeksi diri atas kelalaiannya, memanfaatkan usia dengan baik, membekali diri untuk menyongsong akhir urusannya dengan amal-amal yang soleh, mengingat dan taat kepada Allah sentiasa. Itulah bekal utama untuk menghadapi hari di mana seluruh makhluk akan menuju ke tempat kembali mereka yang abadi. 

Sedangkan, kebalikan orang yang pintar ialah orang yang lemah, yaitu orang yang melakukan kelalaian. Orang yang lalai dari taat kepada Allah kerana selalu mengikuti hawa nafsunya, tetapi ia masih mengharapkan Allah berkenan mengampuninya, maka inilah yang disebut orang tertipu. Hassan al-Bashri mengatakan, "Ada satu kaum yang kerana asyik dimabuk oleh angan-angan, mereka pun pergi dari dunia tanpa meninggalkan kebajikan apa pun. Tetapi, salah seorang mereka berkata, 'Aku telah berbaik sangka kepada Tuhanku.' Sudah tentu ia berdusta. Sebab, berbaik sangka kepada Allah itu harus dibuktikan dengan amal-amal soleh." Selanjutnya ia membaca firman Allah, "Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka terhadap Tuhanmu. Dia telah membinasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang rugi."

Sa'id bin Jubair mengatakan, "Yang disebut menipu Allah ialah jika seseorang yang keras kepala melakukan maksiat tetapi masih mengharapkan ampunan Allah." Baqiyah ibnul-Walid mengatakan,"Abu Umairah ash-Shuri berkirim surat kepada seorang temannya. Isinya, 'Amma ba'du. Selama ini kamu yang hanya memikirkan dunia, masih saja mengharapkan Allah dengan perbuatanmu yang buruk. Itu sama halnya kamu membuat besi yang dingin. 

Bab 1 :Seluk-Beluk Kematian
Imam Al-Qurthubi
Rahsia Kematian, Alam Akhirat & Kiamat


Monday, April 7, 2014

Vincent (Starry, Starry Night)

                                                  "Vincent (Starry, Starry Night)"

Starry, starry night
Paint your palette blue and gray
Look out on a summer's day
With eyes that know the darkness in my soul

Shadows on the hills 
Sketch the trees and the daffodils
Catch the breeze and the winter chills
In colors on the snowy linen land

Now I understand
What you tried to say to me
And how you suffered for your sanity
And how you tried to set them free

They would not listen, they did not know how
Perhaps they'll listen now

Starry, starry night
Flaming flowers that brightly blaze
Swirling clouds in violet haze
Reflect in Vincent's eyes of china blue

Colors changing hue
Morning fields of amber grain
Weathered faces lined in pain
Are soothed beneath the artist's loving hand

Now I understand
What you tried to say to me
And how you suffered for your sanity
And how you tried to set them free

They would not listen, they did not know how
Perhaps they'll listen now

For they could not love you
But still your love was true
And when no hope was left in sight
On that starry, starry night

You took your life, as lovers often do
But I could've told you Vincent
This world was never meant for
One as beautiful as you

Starry, starry night
Portraits hung in empty halls
Frame-less heads on nameless walls
With eyes that watch the world and can't forget

Like the strangers that you've met
The ragged men in ragged clothes
The silver thorn of bloody rose
Lie crushed and broken on the virgin snow

Now I think I know
What you tried to say to me
And how you suffered for your sanity
And how you tried to set them free

They would not listen, they're not listening still
Perhaps they never will

PAGI Jamaludin D.


Pagi ini kita bukan kesuntukan waktu
seperti lazimnya, kita tetap memesrai
susur galur kehidupan dan denyut nadi insan.

Pagi ini waktu-waktunya merangsangkan keceriaan
bening keinsafan meraut
seraut wajah kejernihan
ingat kembali pohon diri
dalam belantara maknawi.

Pagi janganlah kita biarkan
api menyala membakar hutan harmoni
mengelar menghiris denai-denai laluan
ke ladang pohon cinta
            belukar sayang
            gugus-gugus rimba kasih
bumi tumpah lembap air mata.

Pagi ini kita cantumkan pucuk-pucuk
            kecubung-kecubung
            menara-menara
angkasa terlalu luas, kita lebarkan kalbu jiwa
jadi rasa satu rumpun keinsafan
kembali diikat berkas
            jari-jari
            gerigis-gerigis
            bilah-bilah
            lidi-lidi
           
            himpunan penunjang ketuanan
            hak kepada yang hak
            milik di tangan, jangan lagi dilepaskan
            cakuk ke bila-bila

            pegang ke bila-bila.

Aduhai Anak - Awang Abdullah

Aduhai anak
ini rumah kita
pilarnya kebebasan
memancang daulat bumi warisan
bumbungnya kemerdekaan
memayungi sumpah anak watan.

Aduhai anak
halaman nan luas tempat bermain
pernah jadi ladang bara
disambar panas lidah berpucuk api
ladang pusaka
dihampar saujana teka-teki

Aduhai anak
jejak-jejak hari sudah
disiat pisau duka
hari kelmarin yang syahdu
tertusuk perih yang sembilu
Keranda 152 pernah diarak ke kuburan bahasa
namun atas nama cinta segala perkasa
maruah bahasa kembali ke takhta bangsa
demikian bahasa asal tanah Sriwijaya
telah menyimpan berkat di pejal batu bersurat
memahat janji di lapis misteri
lalu menebarkan mimpi dan wawasan baru
ke daerah pesisir pulau-pulau Melayu.

Aduhai anak
marilah kita kumpulkan lelah
dari musim payah
dengan misi dan visi baru
jadikanlah Malaysiaku kota astakona

Dari juringan cahaya
bukannya taman-taman kristal
berimba kaca

Aduhai anak
jangan biarkan kemelut dan fobia wawasanisme
terus memahat kesangsian kita
di tugu utopia

Aduhai anak
perjalanan ini
tak selamanya berduri